Rektor Universitas Terbuka Hadiri Pertemuan Presiden dengan 1.200 Rektor dan Guru Besar

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengundang sekitar 1.200 rektor dan guru besar dari perguruan tinggi negeri dan swasta dalam pertemuan tertutup di Istana Negara, Jakarta. Pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah dan kalangan akademisi untuk membahas arah kebijakan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah. Universitas Terbuka (UT) turut hadir dalam pertemuan tersebut. UT diwakili langsung oleh Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., bersama para dekan, yakni Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Dr. Meita Istianda, S.IP., M.Si., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Prof. Dr. Ucu Rahayu, M.Sc., serta Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Dr. Meirani Harsasi, S.E., M.Si. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan langsung pandangannya mengenai kondisi global dan nasional, serta menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai garda terdepan dalam menyiapkan sumber daya manusia dan kebijakan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Presiden juga mengajak para guru besar, khususnya dari bidang sosial dan humaniora, untuk berkontribusi dalam membaca arah sosial, politik, dan demokrasi Indonesia. Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto menyampaikan bahwa pertemuan ini memberikan pemahaman langsung mengenai arah kebijakan Presiden. “Alhamdulillah, kami diundang langsung oleh Bapak Presiden untuk mendengarkan taklimat mengenai perkembangan terkini, termasuk dinamika geopolitik global dan berbagai hal penting lainnya. Presiden juga menyampaikan pandangan beliau terkait kondisi bangsa serta apa yang perlu dilakukan perguruan tinggi untuk mendukung program-program strategis pemerintah,” ujarnya. Ia juga menyoroti komitmen Presiden terhadap penguatan riset nasional. “Ada kabar baik bagi dunia akademik, khususnya para peneliti, karena Presiden secara langsung meminta agar anggaran penelitian ditingkatkan. Ini menjadi dorongan besar bagi perguruan tinggi, termasuk Universitas Terbuka, untuk terus berkontribusi dalam riset dan inovasi demi kemajuan bangsa,” tambahnya. Sementara itu, Dekan FHISIP UT Dr. Meita Istianda, S.IP., M.Si., menilai paparan Presiden menyentuh isu-isu mendasar. “Penjelasan Presiden sangat komprehensif, termasuk menyinggung kondisi demokrasi di Indonesia dan berbagai program untuk kesejahteraan bangsa,” ungkapnya. Kehadiran Universitas Terbuka dalam pertemuan strategis ini menegaskan komitmen UT sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas dan inklusif, serta mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.(*) Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Rektor Universitas Terbuka Hadiri Pertemuan Presiden dengan 1.200 Rektor dan Guru Besar, https://makassar.tribunnews.com/kampus/1826125/rektor-universitas-terbuka-hadiri-pertemuan-presiden-dengan-1200-rektor-dan-guru-besar.

Hangat dan Penuh Cerita, Bazar Silaturahmi Mahasiswa UT Makassar Berlangsung Meriah

Di tengah ritme perkuliahan jarak jauh yang kerap terasa sunyi dan individual, mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Makassar akhirnya menemukan ruang untuk bertemu, berbincang, dan berbagi cerita secara langsung. Bazar Silaturahmi Antar Mahasiswa yang digelar oleh Organisasi Mahasiswa UT Makassar berlangsung hangat, meriah, dan penuh makna. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2026, mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, bertempat di Inspirasi Cafe, Jl. Pintu 0 Tamalanrea, Perintis Kemerdekaan. Sejak sore hingga malam, kafe tersebut berubah menjadi ruang kebersamaan yang hidup—dipenuhi tawa, obrolan, dan cerita yang selama ini tertahan di balik layar. Bazar Silaturahmi ini tidak dimaknai sekadar sebagai agenda kumpul. Mahasiswa yang sebelumnya hanya saling mengenal melalui grup percakapan dan ruang daring akhirnya dapat berjumpa secara langsung. Yang belum pernah bertemu kini saling menyapa, yang lama tak bersua kembali duduk dalam satu lingkar cerita. Suasana nonformal khas kafe, dipadukan dengan alunan musik dan permainan ringan, membuat sekat-sekat antar angkatan dan organisasi mahasiswa mencair dengan sendirinya. Musik menghidupkan suasana, game menciptakan tawa, dan obrolan sederhana menghadirkan keakraban yang terasa tulus. Ketua Ormawa UT Makassar, Ade Islamiah Mahsar Kahil, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan mahasiswa yang telah meramaikan kegiatan tersebut. “Makasih buat teman-teman panitia yang sudah hard work kemarin, dan teman-teman yang sudah datang meramaikan kegiatan kita. Kita sudah ciptakan momen silaturahmi. Yang belum pernah ketemu jadi ketemu,” ungkapnya. “Big love untuk teman-teman Ormawa,” tambahnya. Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Arianto Hasyim dari Divisi Keilmuan, mengungkapkan bahwa pelaksanaan bazar ini sempat berada di antara kepastian dan ketidakpastian. Sejumlah kendala dan pertimbangan membuat keputusan pelaksanaan baru dapat dipastikan menjelang hari H. “Awalnya ini bazar masih antara pasti dan tidak pasti dilaksanakan karena ada beberapa kendala dan pertimbangan. Akhirnya kita fix-kan dan tentukan di H-3. Sebelumnya memang sudah survei beberapa tempat, tapi baru di H-3 kemarin kita tetapkan lokasi, konsep, dan mulai mematangkan persiapan lainnya,” jelas Arianto. Meski disiapkan dalam waktu yang relatif singkat, Arianto menilai kegiatan ini tetap berjalan dengan cukup baik. “Kalau dibilang berhasil, menurut pandanganku yang pertama kali ikut dalam kegiatan bazar, ini lumayan berhasil dengan persiapan yang serba dadakan. Meskipun masih banyak kekurangan di pandangan orang lain, tapi melihat kerja keras teman-teman panitia itu luar biasa,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam persiapan kegiatan terletak pada keterbatasan waktu panitia. “Tantangan terberat itu soal waktu. Teman-teman panitia susah baku dapat waktunya karena masing-masing punya kesibukan. Tapi alhamdulillah kegiatan bazar bisa berjalan dengan baik dan cukup ramai sampai penutupan,” tutupnya. Bazar Silaturahmi ini menjadi bukti bahwa di balik sistem pembelajaran jarak jauh, mahasiswa UT Makassar tetap membutuhkan ruang kebersamaan dan rasa memiliki. Kehangatan yang tercipta tidak hanya menghadirkan keseruan, tetapi juga menegaskan bahwa solidaritas mahasiswa masih tumbuh dan hidup. Lebih dari sekadar agenda, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tentang modul, nilai, dan ujian. Ia juga tentang perjumpaan, relasi, dan cerita-cerita kecil yang kelak menjadi kenangan berharga dalam perjalanan menjadi mahasiswa. Di mana saja mahasiswa UT Makassar sedang menulis kisahnya sendiri—pelan, sunyi, tetapi penuh makna—ruang-ruang seperti inilah yang menjaga api kebersamaan agar tetap menyala.