Dari yang Dianggap “Gaib”, Mahasiswa UT Makassar Justru Bongkar Akar Cyberbullying

Saat ruang digital ramai membahas dampak cyberbullying, tiga mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Makassar memilih masuk lebih dalam ke akarnya. Bukan di media sosial, melainkan di ruang kelas taman kanak-kanak, tempat kata-kata pertama kali membentuk cara seseorang berkomunikasi. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan tahun 2026, tim yang diketuai Aulia (PGPAUD-S1), bersama Ika Putri (PGPAUD-S1) dan Riska (Ilmu Hukum-S1), mengangkat program “Pengembangan buku cerita berbasis pendidikan karakter untuk menekan agresif verbal anak di TK Istiqamah sebagai upaya preventif cyberbullying.” Langkah ini mungkin tampak sederhana. Namun justru di situlah letak ketegasannya. Di tengah banyaknya pendekatan yang fokus pada penanganan di hilir, mulai dari regulasi, kampanye digital, hingga penindakan, tim ini memilih menyentuh bagian yang sering terlewat: agresif verbal pada anak usia dini. Sesuatu yang kerap dianggap sepele, padahal perlahan membentuk pola komunikasi yang berpotensi terbawa hingga ke ruang digital. Ketua tim, Aulia, yang juga merupakan member divisi keilmuan Ormawa UT Makassar, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari pengalaman langsung mereka sebagai pendidik. “Maraknya kasus cyberbullying menjadi perhatian kami. Sebagai guru TK, kami sering melihat dan mendengar anak-anak melakukan agresif verbal. Sementara ke depan, mereka pasti akan menjadi pengguna media sosial,” ujarnya. Ia menambahkan, jika perilaku tersebut tidak diarahkan sejak dini, maka risiko yang muncul di masa depan akan semakin kompleks. “Kalau agresif verbal ini tidak diredam, kami khawatir akan berkembang menjadi cyberbullying. Karena itu kami memilih buku cerita sebagai media, karena sangat dekat dengan anak-anak dan mereka cenderung meniru,” lanjutnya. Pendekatan melalui buku cerita menjadi pilihan yang relevan, bukan karena paling modern, tetapi karena paling dekat dengan cara anak belajar: melihat, mendengar, lalu meniru. Pandangan tersebut kembali ditegaskan oleh Aulia yang menyoroti pentingnya intervensi sejak usia dini sebagai langkah preventif yang sering kali terabaikan. “Sering kali kita menganggap ini hal biasa pada anak-anak. Padahal, jika tidak diarahkan, pola ini bisa terbawa hingga mereka memasuki ruang digital,” jelasnya. Di sisi lain, capaian ini juga membawa pesan yang lebih luas. Di tengah stigma “mahasiswa gaib” yang kerap disematkan pada mahasiswa UT, realitas ini justru menunjukkan hal sebaliknya. Bahwa yang tidak selalu terlihat bukan berarti tidak bekerja, melainkan sedang bergerak dengan cara yang berbeda. Ketua Ormawa UT Makassar, Ade Islamiah Mahsar Kahil, turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “Alhamdulillah, ini menjadi kebanggaan tersendiri. Akhirnya ada perwakilan dari UT Makassar yang lolos dalam program yang difasilitasi oleh LPPM UT. Lebih membahagiakan lagi karena ketua tim berasal dari Ormawa UT Makassar,” ujarnya. Ia menilai capaian ini tidak hanya berhenti sebagai prestasi, tetapi juga menjadi dorongan bagi mahasiswa lain untuk mulai melangkah. “Ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman mahasiswa lainnya. Kampus sudah membuka banyak ruang pengembangan, tinggal bagaimana kita berani melangkah dan terus bertumbuh,” tambahnya. Ia pun berharap program ini dapat berjalan hingga memberikan dampak nyata. “Semoga PKM ini berjalan lancar hingga selesai dan bisa memberikan manfaat, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat,” tutupnya. Pada akhirnya, apa yang dilakukan tim ini mungkin tidak hadir dengan sorotan besar. Tidak pula dibungkus dengan gebrakan yang riuh. Namun dari langkah yang tenang itu, satu hal menjadi jelas. Cyberbullying tidak lahir begitu saja di ruang digital. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dibiarkan, dari kata-kata yang dianggap biasa, dan dari pola yang tidak pernah benar-benar diarahkan. Dan kali ini, dari yang sering dianggap “tak terlihat”, justru muncul upaya untuk menyentuh akar, tempat perubahan seharusnya dimulai.