MAROS – Belajar Bahasa Inggris tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Bagi 42 siswa kelas VII–IX MTs Al-Wasi’ Kuri, Dusun Kuri Caddi Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Bahasa Inggris dipelajari melalui cerita bilingual, permainan misi, bermain peran, hingga belajar langsung di kawasan mangrove.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Terbuka bertajuk “Model Edukasi Anak Ramah Lingkungan dan Anti-Bullying melalui Pembelajaran Bahasa Inggris Kontekstual.” Program yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Universitas Terbuka ini dilaksanakan dalam tiga rangkaian kegiatan yang mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Inggris dengan edukasi lingkungan dan pencegahan perundungan.
Rangkaian pertama dilaksanakan pada 31 Juli 2026 melalui pembelajaran menggunakan buku cerita bilingual bertema lingkungan dan anti-bullying. Pembelajaran dikemas dengan metode bermain misi, di mana siswa membaca cerita, mengenal kosakata Bahasa Inggris, berdiskusi, bekerja sama, dan menyelesaikan berbagai tantangan. Ungkapan sederhana seperti be kind, help your friends, stop bullying, dan protect the environment dipelajari melalui situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa belajar Bahasa Inggris tidak harus terpisah dari kehidupan sehari-hari anak. Lingkungan mangrove yang dekat dengan mereka serta nilai saling menghargai dan berani menolak bullying dapat menjadi bagian dari proses belajar yang menyenangkan. Harapannya, anak-anak tidak hanya belajar Bahasa Inggris, tetapi juga tumbuh lebih percaya diri, peduli terhadap lingkungan, dan mampu memperlakukan sesama dengan baik,” ujar Nuraziza Aliah, S.Pd., M.Pd., Ketua Tim PkM Universitas Terbuka.
Rangkaian kedua dilaksanakan pada 7 Agustus 2026 melalui pelatihan penggunaan buku cerita bilingual bagi guru. Guru diperkenalkan pada penggunaan storytelling, permainan, membaca bersama, diskusi, serta aktivitas sederhana yang dapat diterapkan kembali di kelas. Pelibatan guru menjadi bagian penting agar buku dan metode pembelajaran yang dikembangkan dapat terus dimanfaatkan setelah program PkM selesai. Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Wasi Kuri, Sapri, S.Pd. I dalam sambutannya mengatakan “Kegiatan PkM Universitas Terbuka telah memberikan pengalaman dan ilmu baru bagi siswa dan guru sehingga memandang pelajaran Bahasa Inggris sebagai pembelajaran yang menyenangkan.”
Salah seorang guru peserta pelatihan juga menyampaikan, “Ternyata Bahasa Inggris dapat diajarkan dengan cara bercerita, dan dapat diintegrasikan dengan berbagai ilmu jika guru dapat meramunya dengan baik, dan ini yang kami dapatkan dari kegiatan PkM ini.”
Rangkaian ketiga dilaksanakan pada 14 Agustus 2026 dengan menjadikan kawasan mangrove sebagai “kelas alam”. Siswa diajak mengamati mangrove secara langsung dan menghubungkan apa yang mereka lihat dengan kosakata serta pesan lingkungan yang sebelumnya dipelajari melalui buku cerita. Edukasi anti-bullying juga diperkuat melalui role play. Siswa mempraktikkan cara merespons ejekan, membantu teman, menggunakan kata-kata yang baik, serta berani menolak tindakan perundungan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan rancangan program yang memadukan Contextual Teaching and Learning, learning through play, storytelling, role play, dan experiential learning, sehingga siswa belajar melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka. Melalui tiga rangkaian kegiatan ini, Bahasa Inggris tidak hanya diperkenalkan sebagai mata pelajaran, tetapi juga menjadi media untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, empati, keberanian menolak perundungan, dan kebiasaan berkomunikasi secara positif.
Dari buku cerita di ruang kelas hingga belajar langsung di kawasan mangrove, program PkM Universitas Terbuka 2026 ini membawa pesan sederhana bahwa belajar bahasa dapat berjalan bersama dengan belajar menjaga alam dan menghargai sesama.